Kera-Kera yang Ramah Di Alas Kedaton

kedaton-1Jika anda dan keluarga ingin merasakan liburan dengan suasana baru di Bali, anda bisa mendatangi Alas Kedaton. Seperti namanya, Alas Kedaton merupakan sebuah kawasan hutan lindung yang dihuni 400 lebih kera liar. Di sini anda akan disambut oleh kera-kera sejak anda datang. Anda bisa bercengkrama dan mengenalkan kehidupan kera kepada anak-anak anda. Kabarnya kera-kera di alas kedaton jauh lebih ramai dan lebih ramah dibandingkan dengan monyet-monyet di pura bukit sari sangeh. Selain kera, anda juga bisa melihat Kalong yang bergelayutan di pohon. Namun anda jangan khawatir, meski dibiarkan di alam terbuka, hewan-hewan di hutan seluas 12 hektar ini sudah jinak dan bersahabat. Meski demikian, anda perlu untuk tetap berhati-hati dan tetap menjaga barang bawaan anda.

SANYO DIGITAL CAMERAAlas Kedaton merupakan salah satu dari dua hutan kera yang ada di Bali. Hutan kera yang lain berada di kawasan Ubud. Terletak di jalan raya Alas Kedaton, desa Kukuh, kecamatan Marga, Tabanan, Alas Kedaton hanya berjarak 35 km atau kurang lebih 1 jam dari kota Denpasar. Dari jalan di ujung selatan Desa Kukuh anda bisa membelok ke arah timur untuk sampai di tempat ini. Anda tidak perlu khawatir karena jalan yang ada lewati untuk ke lokasi ini sudah cukup baik.

alas-kedaton1Hutan di Alas Kedaton cukup lebat dengan 24 jenis tumbuhan di dalamnya. Ada pohon Dau, mahoni, kayu adeng, klampuak, dan masih banyak lagi. Di sudut tenggara hutan ada sebidang tanah yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai kuburan kera. Namun berdasarkan penelitian dari Tim Arkeologi Universitas Udayana, tidak ditemukan tulang kera di sana. Menurut masyarakat setempat, kera-kera di Alas Kedaton telah berteman dengan manusia sejak zaman dahulu. Oleh karenanya mereka begitu jinak kepada para pengunjung. Meski demikian anda jangan sampai mengganggu dan menyakiti kera-kera di sana karena hutan dan segala isinya dianggap masyarakat setempat sebagai milik dewa sehingga dikeramatkan.

Jika anda ingin bercengkrama dengan kera-kera di Alas Kedaton, sebaiknya anda menggunaka jasa guide lokal yang telah hafal kebiasaan kera-kera di sini. Anda juga bisa memanfaatkan makanan kesukaan kera-kera ini untuk bisa berfoto bersama. Jika sudah puas berfoto dan menikmati kelucuan kera, anda bisa berfoto dengan beberapa kalong besar yang sengaja dipelihara oleh masyarakat setempat. Anda akan merasa bagai petualang yang berlibur di tengah hiutan belantara.

kelelawar-alas-kedatonSelain kera dan kalong, daya tarik lain Alas Kedaton adalah pura yang berada di kawasan hutan tropis ini. Pura dengan nama Pura Dalem Kahyangan tersebut memiliki aura magis dan ceritas historis yang panjang. Berdasarkan data arkeologis, pura tersebut dibangun oleh Mpu Kuturan atau Mpu Rajakretha yang hidup di masa pemerintahan Raja Sri Masuli di tahun 1100 Saka atau sekitar tahun 1178 M. Kala itu sang Mpu bertugas sebagai salah satu penasihat kerajaan.

alas-kedatonPura yang menghadap ke barat ini, begitu unik karena memiliki 4 pintu masuk pada setiap sisi pura dengan bentuk arsitektur bangunan yang kuno dan sederhana. Selain itu struktur pura ini berbeda dengan struktur pura-pura lain, yaitu pada bagian halaman dalam (utamaning mandala) merupakan halaman tersuci lebih rendah dari halaman tengah (madyaning mandala). Di dalam pura ini terdapat beberpa peninggalan pada masa pra sejarah hingga masa Hindu. Terdapat susunan batu kali dan arca primitif, yang disebut dengan  menhir kecil, sebagai bukti peninggalan masa pra sejarah. Sedangakan bukti peninggalan zaman Hindu berupa Lingga semu yang berada dalam sebuah meru yang disebut Dalem Kahyangan. Selain itu juga terdapat arca Durgha Mahisasuramardini dan arca Ganesha di dalam sebuah meru yang disebut Dalem Kedaton. Arca ganesha tersebut duduk di atas bantalan dengan 2 ekor kuda yang diartikan sebagai sebuah Candra Sengkala dengan bunyi “Dwi Naga Gana Tunggal”. Dwi naga Gana Tunggal berarti tahun 1582 Saka atau tahun 1760 M.

kera_alas-kedatonJika ingin bersembahyang di sini maka dilarang untuk membawa dupa. Menurut masyarakat setempat, ketiadaan api ini ditafsirkan sebagai sifat amarah dan hawa nafsu yang telah padam. Selain itu juga tidak diperkenakan memakai penjor, segehan, dan tabuh rah. Piodalan atau hari jadi pura ini diselenggarakan setiap 210 hari atau 6 bulan sekali, yakni pada hari Selasa Kliwon Wuku Medangsia. Upacara dimulai pada tengah hari dan selesai sebelum matahari terbenam.

Jika anda ingin berlibur ke sini, anda dapat menyerahkan kebutuhan akomodasi anda di beberapa hotel murah di bali, seperti:

Refrensi:

  • http://www.balitoursclub.com/berita_74_Alas_Kedaton.html
  • http://www.rentalmobilbali.net/alas-kedaton/
  • http://www.wisatadewata.com/article/wisata/alas-kedaton

Add a Comment

Your email address will not be published.